MENUNGGU


Tanah  yang basah setelah di tinggal hujan tadi sore. Cabang dan ranting mencuat kesana kemari seperti hendak meraih sesuatu. Di beberapa tempat hujan masih turun. Payung-payung  mengembang menangkis hujan. Jalan masih terlihat sepi. Orang-orang lalu lalang beratapkan payung.

Hampir satu jam Yuni duduk di teras rumah. Matanya yang bundar selalu bergerak setiap ada sesuatu yang bergerak di jalan depan rumahnya. Tapi matanya yang bundar itu selalu meredup kembali, sayu lagi, bersama denga hela napasnya yang berat.

“Apakah hari ini dia tidak datang?” Yuni berucap lirih. Ia sedang menunggu kekasihnya, Reza. Tapi, dinginnya malam membuat tubuh Yuni menggigil. Ia tak mungkin bertahan, ia harus segaera masuk kecuali dia merelakan tubuhnya masuk angin. Sementara gerimis mulai turun.

“Apakah dia tidak akan datang?” Untuk ke sekian kali Yuni mengulang kalimat itu. Gerimis berubah menjadi hujan deras. Tetap tak ada ruang baginya untuk mengharapkan kedatangan kekasihnya. Yuni kemudian melangkah masuk, menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. “Ya. Dia tidak akan datang malam ini….” Suara itu sungguh sangat pelan.

Yuni menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Langit-langit kamar masih putih seperti dulu. Ia memang menyukai warna putih, warna yang melambangkan cinta suci dan mungkin juga kesetiaan. Tapi, hatinya tetap gelisah. Dan malam ini, ia akan memulai tidurnya dengan kegelisahan. Gelisah terus mengganggu dan kesedihannya kian sempurna. Dia tidak tau kapan semua ini akan berakhir. Ia hanya percaya satu hal yang berawal pasti akan berakhir.

Di luar, hujan masih turun deras. Tapi dikamar itu, di kamar yang berlangit-langit putih, mata Yuni mulai sayup, redup, lalu segalanya menjadi gelap. Segalanya…

“Apakah dia benar-benar tidak datang?”  Kata-kata itu selalu di ucapkan Yuni setip kali ia duduk di teras rumah. Tapi udara malam yang tak bersahabat membuat suasana hati Yuni semakin rusuh. Gelisah. Menunggu memang membosankan. Tetapi menjadi tidak membosankan ketika nyala lilin harapannya itu menjadi besar, berkobar.

Siapa yang bisa menahan gerimis? Ia bisa turun kapan saja, setiap detik tanpa kompromi. Apalagi Yuni. Seperti halnya malam ini! Betapa pun keras Yuni menjerit, berteriak, agar gerimis tak turun, tapi langit berkata lain! Yuni tak mungkin bisa menahan gerimis. Menahan hujan. Menahan badai. Karena mengharap kedatangan Reza pun, ia selalu gagal!

Harapan itu musnah sudah. Yuni berjalan masuk ke dalam rumah. Sebelum menutup pintu, sekali lagi matanya yang bundar menatap lurus jalan rumahnya yang penuh genangan air. Yuni menutup pintu dan mengunci, “Ia tidak akan datang malam ini….” Suara itu lebih mirip desahan.

Ia terus menunggu meski mendung tebal menyelimuti permukaan langit dan hujan deras akan turun. Siapa yang bisa menahan hujan? Hujan akan turun kapan saja. Apakah Yuni bisa menahan hujan? Apakah Reza bisa menahan hujan? Tak ada! Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menahan hujan. Termasuk Yuni! Termasuk Reza! Yuni adalah seorang perempuan yang terlarut dalam doa dan harapannya. Setiap malam, Yuni selalu menunggu Reza. Setiap malam Yuni terus membangun harapan-harapan. Setiap malam Yuni terus merajut impian-impian. Setiap malam, Yuni terus merenda setiap kenangan-kenangan.

Advertisements
This entry was published on June 8, 2016 at 3:25 pm and is filed under Coretan Yunda. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: