MIMPI


Mimpi yang aneh. Ya mimpi tentangmu. Mimpi yang membangunkanku saat hari masih petang. Saat fajar belum menampakkan bias sinarnya. Saat suara ibuku belum terdengar menggelegar memenuhi sudut-sudut kamarku. Ruangan ternyamanku di dunia. Lucu sekali. Kamu datang menghampiriku, memintaku menunggu. Lagi, dan kemudian kamu tak jadi menjelaskan berbagai varian cerita yang kamu promosikan kepadaku.

Kenapa harus melalui mimpi? Kamu hanya ingin memberikan isarat padaku? Atau apa? Isyarat tak akan kembali atau apa lagi yang lainnya?

Tahukah kamu, aku kini belajar sesuatu yang dulunya aku tak berfikir akan melakukannya. Rasa terlalu itu yang menghalauku untuk belajar sesuatu yang seperti ini. Rasa terlaluku itu yang menghadangku untuk tidak berfikir akan sampai seperti ini jadinya.

Tapi nasi sudah menjadi bubur kan? Nasi itu bak rasa percayaku, dan bubur bak pengkhianatanmu, pembohonganmu. Takkan kembali menjadi nasi kan? Ya itulah rasa percayaku padamu. Kau sendiri yang menanak nasi, kau sendiri juga yang membuat nasi itu menjadi bubur. Sepertinya bagimu enak ya? Tapi menurutku bubur ini rasanya pahit. Asli tidak enak. Sepertinya kamu harus menjadi aku dulu agar bisa merasakan pahitnya.

Oh iya, ngomong-ngomong bukannya kamu masih terjerat hutang cerita denganku ya? Bagaimana kabarnya? Apa hanya isu semata? Aku memang membiarkanmu. Aku tidak memaksamu agar kau sendiri sadar. Agar kau sendiri juga tenang. Oh tidak. Tenang? Mungkin iya untuk jiwamu. Jiwa yang berhutang, mungkinkah masih bisa tenang? Ya tak ada yang tak mungkin.

Hei, kamu tidak suka ketidak jujuran kan? Aku yakin pasti tidak tenang disana. Aku terlalu mengenalmu sebagai seorang kamu. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Bukan waktu yang hanya sekedipan kelopak mata. Cukup lama bukan untuk mengenal seorang kamu? Jadi apalagi? Katakan saja jangan mengulur waktu dengan menyuruhku menunggu ceritamu yang lebih lama lagi.

Kenapa harus di mimpi?

Datanglah di alam nyata.

Jangan lupa ajak kekasihmu juga ya.

Advertisements
This entry was published on September 21, 2016 at 3:45 am and is filed under Coretan Yunda. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: